Ketika Ulama Diuji Oleh Hasad Sesama Ulama

Sebuah refleksi tentang adab, keikhlasan, dan persaudaraan di antara ahli ilmu
Ilmu yang Tinggi, Hati yang Masih Diuji
Ada kenyataan yang terasa pahit untuk diucapkan: di antara orang-orang yang berilmu, bahkan mereka yang dikenal sebagai ulama, dapat muncul kecemburuan dan kedengkian terhadap sesama ahli ilmu. Bukan karena ilmu agama mengajarkan hasad. Justru ilmu datang untuk menyucikan jiwa. Akan tetapi, seorang alim tetap manusia yang harus terus berjuang menundukkan hawa nafsunya.
Ada yang fasih menjelaskan keikhlasan, tetapi dadanya sesak ketika orang lain lebih didengar. Ada yang mampu menguraikan bahaya riya dan hasad, tetapi hatinya diuji ketika saudara seperjuangannya memperoleh penerimaan yang luas. Karena itu, ukuran kedalaman ilmu bukan hanya banyaknya kitab yang dibaca, melainkan juga kelapangan hati ketika Allah melimpahkan karunia kepada orang lain.
Hasad: Penyakit yang Dilarang Wahyu
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya?” (QS. al-Nisa’ [4]: 54).
Ayat ini mengecam kedengkian atas karunia Allah swt. Hasad, dalam pengertian tercela, bukan sekadar menginginkan kebaikan serupa, melainkan membenci nikmat yang ada pada orang lain, terlebih mengharapkan nikmat itu lenyap. Karena itu, kegembiraan atas keberhasilan sesama bukan kelemahan, melainkan tanda kelapangan jiwa.
Rasulullah ﷺ, bersabda,
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim, no. 2564, Kitab al-Birr wa al-Silah).
Larangan Nabi ﷺ ini berlaku bagi semua Muslim, termasuk guru, dai, kiai, dan ulama. Bahkan orang yang menyampaikan nasihat tersebut memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk lebih dahulu memeriksa hatinya sendiri.
Ketika Kritik Berubah Menjadi Upaya Menjatuhkan
Tidak setiap perbedaan pendapat adalah hasad. Kritik terhadap argumentasi, riwayat, metode, dan kesimpulan hukum merupakan bagian terhormat dari tradisi keilmuan Islam. Imam-imam besar berbeda pendapat tanpa harus kita tuduh saling mendengki. Tetapi kritik kehilangan kemuliaannya apabila diarahkan bukan untuk menjelaskan kebenaran, melainkan untuk mempermalukan, mengerdilkan jasa, atau memadamkan pengaruh seseorang.
Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali membedakan nasihat yang bermaksud memperbaiki dari ta‘yir, yakni tindakan mencela atau membuka kekurangan demi merendahkan orang lain. Pembahasan itu dapat dibaca dalam risalahnya, Al-Farq bayna al-Nasihah wa al-Ta‘yir. Pesannya penting: kebenaran harus dijaga, tetapi kehormatan sesama Muslim juga tidak boleh dijadikan korban ambisi pribadi.
Imam al-Dzahabi dan Peringatan tentang Penilaian Ulama Sezaman
Dalam pembahasan kritik periwayat, Imam al-Dzahabi (w. 748 H) mengingatkan bahwa penilaian seorang tokoh terhadap tokoh sezamannya perlu diteliti, terutama ketika tampak adanya permusuhan, fanatisme mazhab, atau hasad. Ungkapan yang masyhur dalam karya beliau berbunyi:
كَلَامُ الْأَقْرَانِ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضٍ لَا يُعْبَأُ بِهِ، لَا سِيَّمَا إِذَا لَاحَ لَكَ أَنَّهُ لِعَدَاوَةٍ أَوْ لِمَذْهَبٍ أَوْ لِحَسَدٍ، وَمَا يَنْجُو مِنْهُ إِلَّا مَنْ عَصَمَ اللَّهُ، وَمَا عَلِمْتُ أَنَّ عَصْرًا مِنَ الْعُصُورِ سَلِمَ أَهْلُهُ مِنْ ذَلِكَ سِوَى الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيقِينَ، وَلَوْ شِئْتُ لَسَرَدْتُ مِنْ ذَلِكَ كَرَارِيسَ
“Ucapan (kritikan atau celaan) para ulama yang hidup sezaman terhadap sesama mereka tidaklah patut begitu saja dijadikan pegangan, terlebih apabila tampak bagimu bahwa ucapan tersebut dilatarbelakangi oleh permusuhan, perbedaan mazhab, atau kedengkian. Tidak ada yang dapat selamat dari perkara semacam ini kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah. Aku tidak mengetahui satu masa pun sepanjang sejarah yang para penghuninya benar-benar terbebas dari persoalan tersebut, kecuali para nabi dan orang-orang yang sangat tulus dan benar (ash-shiddiqin). Seandainya aku berkehendak, niscaya aku dapat memaparkan begitu banyak kisah mengenai persoalan ini hingga memenuhi berjilid-jilid lembaran.” (Al-Dzahabi, Mizan al-I‘tidal fi Naqd al-Rijal, Jil. 1/111).
Ini bukan larangan mutlak menerima kritik dari ulama sezaman. Maksudnya ialah kewajiban menimbang bukti secara adil dan mewaspadai faktor pribadi yang mungkin memengaruhi penilaian. Sungguh, bila para ahli hadis saja menaruh perhatian pada potensi hasad di lingkungan keilmuan, terlebih kita yang belum tentu memiliki ketelitian dan kebersihan jiwa seperti mereka.
Imam al-Bukhari: Ujian di Tengah Lingkungan Keilmuan
Salah satu kisah yang sering disebut dalam kitab-kitab tarajim adalah perselisihan Imam Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari (w. 256 H) dengan Imam Muhammad bin Yahya al-Dzuhli (w. 258 H) di Naisabur. Pada mulanya al-Dzuhli menyambut kedatangan al-Bukhari dan menganjurkan orang menghadiri majelisnya. Namun kemudian timbul ketegangan, terutama seputar persoalan lafz bi al-Qur’an, yang berdampak pada hubungan kedua tokoh dan keberadaan al-Bukhari di kota tersebut.
Dalam sebagian riwayat biografis yang dihimpun al-Dzahabi, terdapat penyebutan kecemburuan dalam ilmu sebagai salah satu unsur perselisihan.
قَالَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ حَامِدٍ الْبَزَّازَ قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ جَابِرٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَحْيَى قَالَ لَنَا لَمَّا وَرَدَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيُّ نَيْسَابُورَ:«اذْهَبُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ الصَّالِحِ فَاسْمَعُوا مِنْهُ».
فَذَهَبَ النَّاسُ إِلَيْهِ، وَأَقْبَلُوا عَلَى السَّمَاعِ مِنْهُ، حَتَّى ظَهَرَ الْخَلَلُ فِي مَجْلِسِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، فَحَسَدَهُ بَعْدَ ذَلِكَ، وَتَكَلَّمَ فِيهِ.
Al-Hakim Abu Abdillah berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hamid al-Bazzaz berkata: Aku mendengar al-Hasan bin Muhammad bin Jabir berkata: Aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata kepada kami ketika Muhammad bin Ismail al-Bukhari tiba di Naisabur: “Pergilah kalian menemui lelaki saleh ini dan dengarkanlah hadis darinya.” Maka orang-orang pun berbondong-bondong mendatangi Imam al-Bukhari. Mereka begitu antusias menghadiri majelisnya dan mendengarkan hadis-hadis yang disampaikannya.
Hingga akhirnya, keadaan tersebut mulai berdampak pada majelis Muhammad bin Yahya. Majelisnya mengalami penurunan jumlah hadirin karena banyak orang beralih menghadiri majelis Imam al-Bukhari. Setelah itu, Muhammad bin Yahya merasa dengki kepadanya dan mulai membicarakan hal-hal yang buruk tentang dirinya.
Ada juga Riwayat dari Abu Ahmad bin Adi,
وَقَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ: ذَكَرَ لِي جَمَاعَةٌ مِنَ الْمَشَايِخِ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ لَمَّا وَرَدَ نَيْسَابُورَ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ، حَسَدَهُ بَعْضُ مَنْ كَانَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ مِنْ مَشَايِخِ نَيْسَابُورَ لَمَّا رَأَوْا إِقْبَالَ النَّاسِ إِلَيْهِ، وَاجْتِمَاعَهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ لِأَصْحَابِ الْحَدِيثِ
Abu Ahmad bin Adi juga berkata: Sejumlah ulama telah menceritakan kepadaku bahwa ketika Muhammad bin Ismail al-Bukhari tiba di Naisabur, masyarakat berbondong-bondong berkumpul di sekelilingnya. Melihat begitu besarnya perhatian masyarakat dan banyaknya orang yang menghadiri majelis Imam al-Bukhari, sebagian ulama Naisabur pada masa itu merasa dengki kepadanya. (al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, biografi al-Bukhari, bagian kisahnya bersama al-Dzuhli, jil. 12/454).
Kisah ini tentu tidak boleh disederhanakan menjadi kepastian bahwa seluruh sikap salah seorang imam semata-mata lahir dari hasad. Ada persoalan teologis dan perbedaan penilaian yang harus dibaca dalam konteksnya. Yang menggugah dari kisah ini bukan kesempatan untuk menghakimi isi hati para ulama, melainkan kenyataan bahwa seorang ulama yang begitu berjasa bagi umat pun dapat mengalami getirnya konflik di lingkungan sesama ahli ilmu. Karena itu, semakin besar jasa seorang alim, semakin besar pula kewajiban kita menjaga lisan ketika mengisahkan ujian hidupnya.
Imam al-Ghazali: Ilmu yang Tidak Menyucikan Jiwa
Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) berulang kali mengingatkan bahwa ilmu dapat kehilangan buahnya ketika dicari untuk kedudukan, pujian, dan kemenangan dalam perdebatan. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, terutama Kitab al-‘Ilm serta pembahasan tentang penyakit hati, beliau mengkritik kecenderungan mencari popularitas dan saling mengungguli dalam urusan agama. Dalam Bidayat al-Hidayah, beliau pun mengingatkan bahaya perilaku yang mempermalukan sesama.
Peringatan al-Ghazali ini bukan tuduhan kepada seluruh ulama, melainkan cermin untuk setiap pencari ilmu. Sebab, pengetahuan tentang penyakit hati tidak otomatis berarti seseorang telah sembuh darinya. Bahkan terkadang orang yang paling mahir menjelaskan suatu penyakit justru paling membutuhkan muhasabah agar tidak mengalaminya.
Jangan Menjadi Ujian bagi Saudara Seperjuangan
Betapa indah apabila seorang ulama turut bergembira ketika pesantren saudaranya berkembang, ketika majelis seorang dai dipenuhi jamaah, ketika buku seorang penuntut ilmu membawa manfaat, atau ketika pendapat orang lain ternyata lebih kuat dalilnya. Bukankah tujuan perjuangan ini sama: agar agama Allah dipahami dan diamalkan?
Kemuliaan seorang ulama tidak berkurang hanya karena ulama lain dimuliakan. Cahaya sebuah pelita tidak akan redup ketika pelita yang lain ikut menyala. Justru semakin banyak pelita yang menyala, semakin terang jalan umat.
Demikian pula, tidak sepatutnya seorang ulama merasa tersaingi, apalagi menyimpan hasad, ketika Allah menghadirkan ulama-ulama yang lebih muda, lebih bersemangat, lebih luas jangkauan dakwahnya, atau lebih mendapat tempat di hati umat. Bukankah hadirnya generasi ulama yang baru merupakan kabar gembira bagi keberlangsungan ilmu dan dakwah?
Para ulama senior semestinya berbahagia menyaksikan tumbuhnya generasi penerus yang berilmu dan berakhlak. Membimbing mereka dengan kasih sayang, menasihati dengan kebijaksanaan, serta memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkhidmat kepada umat. Sebaliknya, para ulama muda hendaknya tetap menjaga adab, menghormati yang lebih tua, dan menyadari bahwa jalan ilmu yang mereka tempuh hari ini tidak terlepas dari perjuangan generasi sebelumnya.
Ulama yang lebih tua tidak perlu merasa kehilangan kemuliaan karena hadirnya ulama muda. Dan ulama muda tidak perlu merasa besar dengan mengecilkan jasa para pendahulunya. Sebab, ilmu bukanlah singgasana yang harus diperebutkan, melainkan amanah yang mesti diwariskan. Dakwah bukanlah panggung untuk saling mengalahkan, melainkan ladang pengabdian untuk saling menguatkan.
Alangkah indahnya apabila para ulama senior merasa bangga ketika murid-murid dan generasi setelahnya tumbuh menjadi ulama yang hebat, bahkan melampaui pencapaian mereka. Bukankah salah satu tanda keberhasilan seorang guru adalah ketika muridnya mampu melanjutkan, mengembangkan, bahkan menyempurnakan apa yang dahulu telah dirintisnya?
Pada akhirnya, kemuliaan seorang ulama bukan terletak pada kemampuannya mempertahankan pengaruh dan ketokohan, melainkan pada keikhlasannya melahirkan generasi yang kelak mampu meneruskan perjuangannya, meskipun namanya sendiri perlahan tidak lagi disebut-sebut. Karena sejatinya, yang kita perjuangkan bukanlah agar nama kita terus dikenang, melainkan agar cahaya ilmu dan agama Allah terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Pulang
Suatu hari gelar-gelar akan ditinggalkan. Jabatan akan berganti. Mimbar akan ditempati orang lain. Majelis yang dahulu ramai akan menjadi kenangan. Ketika jasad dibaringkan di dalam tanah, tidak ada lagi jumlah pengikut yang patut dibanggakan, tidak ada lagi perdebatan yang perlu dimenangkan, dan tidak ada lagi popularitas yang dapat menyelamatkan.
Yang tersisa hanyalah amal, keikhlasan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Betapa ruginya apabila ilmu yang seharusnya menuntun menuju surga justru dinodai kedengkian terhadap saudara sendiri.
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10).
Semoga Allah menjadikan kita pencinta ilmu yang tidak membenci pemilik ilmu lainnya; pembela kebenaran yang tidak merasa harus selalu menang; dan pengkhidmat agama yang bergembira melihat saudara-saudaranya turut memperoleh kemuliaan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengajarkan manusia membersihkan hati, sementara hati kita sendiri dibiarkan dipenuhi duri.
Amin ya Rabb al-‘alamin.
Wallahu a’lam
Ust. Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A
Rujukan Utama
- Al-Qur’an: QS. al-Nisa’ [4]: 54; QS. al-Hasyr [59]: 10.
- Muslim bin al-Hajjaj. Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah, hadis no. 2564.
- Al-Dzahabi. Mizan al-I‘tidal fi Naqd al-Rijal, jilid 1/111, pembahasan penilaian ulama sezaman.
- Al-Dzahabi. Siyar A‘lam al-Nubala’, jilid 12, tarjamah Imam al-Bukhari dan perselisihan dengan al-Dzuhli.
- Ibn Hajar al-‘Asqalani. Hady al-Sari, muqaddimah Fath al-Bark, pembahasan riwayat mengenai Imam al-Bukhari.
- Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab al-‘Ilm dan bagian tentang penyakit hati; serta Bidayat al-Hidayah.
- Ibn Rajab al-Hanbali. Al-Farq bayna al-Nasihah wa al-Ta‘yir.



0 Comments