Tuntunan Lengkap Shalat Idul Fitri

Idul Fitri terdiri dari dua kata; ‘Id dan Fitr. Secara Bahasa Id berasa dari Bahasa Arab, ‘Aada – Ya’uudu – Al-’Awdah. Antara maknanya berulangnya kegembiraan setiap tahun. ‘Awa-idul Ihsan” Kembalinya kesempatan untuk berbuat baik. Anwa’ al-Ihsan al-’Aa-idah alal ‘Ibaad, beragam kebaikan yang Kembali kepada hamba di setiap tahun.

 

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan,

 

فَإِنَّ الْعِيدَ مُشْتَقٌّ مِنَ الْعَوْدِ وَقِيلَ لَهُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ يَعُودُ فِي كُلِّ عَامٍ وَقَدْ نَقَلَ الْكَرْمَانِيُّ عَنِ الزَّمَخْشَرِيِّ أَنَّ الْعِيدَ هُوَ السُّرُورُ الْعَائِدُ وَأَقَرَّ ذَلِكَ فَالْمَعْنَى أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ شُرِعَ تَعْظِيمُهُ يُسَمَّى عِيدًا

 

“‘Eid diambil dari kata al-‘aud (sesuatu yang kembali), dikatakan demikian karena terulang setiap tahun. Al-Kirmani menukil dari az-Zamakhsyari bahwa ‘ied adalah kebahagiaan yang berulang, lalu ia menetapkan hal tersebut. Maka maknya ‘ied adalah semua hari yang disyariatkan untuk diagungkan.” (Fathul baari 8/271).

 

Selain Fitri ada juga kata Fitrah, dalam literasi fikih berasal dari kata Ifthar, artinya berbuka (tidak berpuasa). Seperti istilah Zakat Fitrah yang disandarkan pada kata Fithri karena Fithri (tidak berpuasa lagi) adalah sebab dikeluarkannya zakat tersebut. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah, 2/8278). Meski umumnya para ulama menyebutnya dengan Zakat Fithri, namun ada sebagian ulama yang menyebutnya dengan sebutan “Fitrah”, yang berarti fitrah penciptaan. Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan bahwa untuk harta yang dikeluarkan sebagai Zakat Fithri juga disebut dengan “Fitrah.” (Al-Majmu’, Imam An-Nawawi: DKI 7/134;).

 

  1. Syariat Shalat Idul Fitri

Sejarah hari raya Idul Fitri tidak lepas dari dua peristiwa, yaitu peristiwa perang badar dan hari raya masyarakat jahiliyah.

 Pertama, awal mula dilaksanakannya hari raya Idul Fitri pada tahun ke-2 Hijriah. Saat itu bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam perang badar. Kemenangan itu menjadi sejarah bahwa di balik perayaan Idul Fitri ada histeria dan perjuangan para sahabat untuk meraih kemenangan dan menjayakan Islam. Oleh karenanya, setelah kemenangan diraih umat Islam, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan, dan kemenangan dalam perang badar.

 

Kedua, sebelum Islam datang, kaum Arab jahiliyah mempunyai dua hari raya yang dirayakan dengan sangat meriah. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa asal-usul disyariatkannya hari raya ini tidak lepas dari tradisi orang jahiliyah yang mempunyai kebiasaan khusus untuk bermain dalam dua hari, yang kemudian dua hari itu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diganti menjadi hari yang lebih baik, dan perayaan yang lebih baik pula, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Rasulullah ﷺ bersabda,

 

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

 

Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda, kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad ﷺ datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Dawud & an-Nasa’i].

 

Shalat ‘Eid dilaksanakan berdasarkan dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ para ulama. Dalil dari Al-Quran adalah firman Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah (karena Rabbmu).” [QS. Al-Kautsar: 2]

 

Ayat ini berkaitan dengan perintah melaksanakan shalat ‘Ied, yakni ‘Iedul Adha.

 

Dalil As-Sunnah antaranya adalah sebagai berikut:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

 

“Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda, kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad ﷺ datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Dawud & an-Nasa’i].

 

Dalil dari sunnah di antaranya Nabi ﷺ bersabda dalam hadits shahih dari Ummu Athiyyah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan,

 

«أَمَرَنَا – تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ»

“Nabi ﷺ memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haid. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haid untuk menjauhi tempat shalat.” [HR. Muslim]

 

2. Hukum Shalat Idul Fitri

Syaikh Wahbah Az-Zuhaily, dalam kitabnya Dalam Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Darul Fikr Al-Mu’ashir, 2/1387-1388), menjelaskan bahwa ada 3 pandangan di kalangan fuqaha terkait dengan hukum pelaksanaan Shalat Idul Fitri;

  • Madzhab Hanafi: Wajib kepada siapa saja yang wajib melaksanakan shalat Jumat.
  • Madzhab Maliki & Syafi’i: Sunnah Muakkadah.
  • Madzhab Hanbali: Fardhu Kifayah.

 

 

3. Hikmah dan Esensi Shalat Idul Fitri

Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairami dalam kitabnya Hasiyah al-Bujairami alal Khatib memaknai esensi hari raya bukan sekadar tentang pakaian baru dan sesuatu yang serbabaru, meski kita disunnahkan menggunakan pakaian baru, pada hakikatnya bukan itu maksud dan makna dari hari raya yang sesungguhnya. Syaikh Sulaiman mengatakan,

 

 فائدة: جعل اللّه للمؤمنين في الدنيا ثلاثة أيام: عيد الجمعة والفطر والأضحى، وكلها بعد إكمال العبادة وطاعتهم. وليس العيد لمن لبس الجديد بل هو لمن طاعته تزيد، ولا لمن تجمل باللبس والركوب بل لمن غفرت له الذنوب.

“Faidah: Allah swt menjadikan tiga hari raya di dunia untuk orang-orang yang beriman, yaitu, hari raya jum’at, hari raya Fitri, dan Idul Adha. Semua itu, (dianggap hari raya) setelah sempurnanya ibadah dan ketaatannya. Dan Idul Fitri bukanlah bagi orang yang menggunakan pakaian baru. Namun, bagi orang yang ketaatannya bertambah. Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berpenampilan dengan pakaian dan kendaraan. Namun, Idul Fitri hanyalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.” (Syaikh Sulaiman al-Bujairami, Hasiyah al-Bujairami alal Khatib, juz 5, h. 412)

 

Idul Fitri adalah hari perayaan dan selebrasi kebahagiaan, namun tidak lepas dari nilai-nilai ibadah seperti takbir dan shalat. Abdullah bin ‘Abbas berkata,

 

كان ابن عباس يقول: حقٌّ على المسلمين إذا نظروا إلى هلال شوال أن يكبرِّوا الله حتى يفرغوا من عيدهم، لأن الله تعالى ذكره يقول: “ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم

“Wajib bagi kaum muslimin apabila mereka melihat hilal Bulan Syawal untuk bertakbir hingga selesai dari hari raya mereka, karena Allah berfirman {Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian}.” (Tafsir Ath-Thabari Jaami’ul Bayan Fii Takwil al-Quraan 3/479).

 

4. Waktu Shalat Idul Fitri

Para ulama mengatakan bahwa waktunya dimulai dari terbitnya matahari sampai matahari tergelincir, berkata Imam An-Nawawi rahimahullahu,

 

ووقتها ما بين طلوع الشمس إلى ان تزول والافضل ان يؤخرها حتى ترتفع الشمس قيد رمح

 

“Waktu shalat ‘ied adalah antara terbitnya matahari sampai tergelincir, dan yang lebih utama adalah mengakhirkannya hingga matahari meninggi setinggi tombak.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/3).

 

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Darul Fikr Al-Mu’ashir, 2/1391, ia menjelaskan, “Ulama sepakat bahwa waktu shalat ‘Id dimulai setelah terbitnya matahari setinggi tombak atau dua tombak, yaitu sekitar 30 menit setelah matahari terbit sampai sebelum Zawal (matahari tergelincir), yakni sebelum masuk waktu Zhuhur. Waktunya juga sama dengan waktu shalat Dhuha.”

 

5. Mempercepat & Memperlambat Shalat ‘Eid

Dan disunnahkan mengakhirkan shalat Idul fitri dan menyegerakan shalat Idul adha, berkata Ibnu Qudamah:

 

وَيُسَنُّ تَقْدِيمُ الْأَضْحَى؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ التَّضْحِيَةِ، وَتَأْخِيرُ الْفِطْرِ؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ إخْرَاجِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ. وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَلَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا

 

“Disunnahkan untuk menyegerakan shalat ‘iedul adha agar waktu menyembelih lebih luas, dan disunnahkan mengakhirkan shalat ‘iedul fithri untuk meluangkan waktu pengeluaran zakat fitrah. Dan ini adalah madzhab syafi’i dan aku tidak mengetahui ada khilaf di dalamnya.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/280)

 

Dalil Imam Asy-Syafi’i adalah hadits Mursal bahwa Rasulullah ﷺ menulis surat kepada ‘Amru bin Hazm saat ia sedang di Najran, “Segerakan Shalat Idul Adha “dan perlambatlah Shalat Idul Fitri, dan beritahukanlah kepada orang-orang.”

 

وَلِلشَّافِعِيِّ فِي حَدِيثٍ مُرْسَلٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَتَبَ إلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ وَهُوَ بِنَجْرَانَ: أَنْ عَجِّلْ الْأَضْحَى وَأَخِّرْ الْفِطْرَ وَذَكِّرْ النَّاسَ» .

(Nailul Authar, Imam Asy-Syaukani, Jami’ al-Kutub al-Islamiyah, 3/348; Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Syaikh Wahbah Az-Zuhaily, Darul Fikr Al-Mu’ashir, 2/1391).

 

6. Tertinggal Shalat ‘Eid, apakah harus diqadha?

 

Madzhab Hanafi & Maliki: Siapa yang tertinggal shalat ‘Eid bersama Imam, maka ia tidak mengqadhanya karena waktunya telah berlalu, dan shalat Sunnah tidak diqadha. (Fathul Qadir, 1/429; Al-Lubab, 1/118; Asy-Syarh ash Shaghir, 1/524; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, 85).

 

Madzhab Syafi’i & Hanbali: Siapa yang tertinggal shalat ‘Eid bersama Imam, maka sunnah mengqadhanya sesuai dengan sifatnya sebagaimana yang lakukan oleh imam” seperti yang pernah dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Qadha shalat ‘Eid boleh dilakukan di hari ‘Eid boleh pula setelahnya, namun afdhal diqadha di sisa hari yang sama. (Mughni al-Muhtaj, 1/315; Al-Muhadzzab, 1/120; Kassyaful Qana’, 2/58; Al-Mughni, 2/390-392). (Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Syaikh Wahbah Az-Zuhaily, Darul Fikr Al-Mu’ashir, 2/1391-1392).

 

 

7. Tempat Shalat Id

 

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Darul Fikr Al-Mu’ashir, 2/1394, menjelaskan bahwa ulama punya 2 pandangan terkait tempat shalat ‘Eid,

 

Jumhur Ulama: Selain di kota Makkah, tempat shalat ‘Eid adalah di tanah lapang yang mengacu pada hadits Rasulullah ﷺ,

 

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

 

“Rasulullah ﷺ biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

 

Namun boleh dikerjakan di masjid jika ada udzur seperti hujan dll. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa pernah suatu Ketika hujan di Madinah saat ‘Eid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Bersama kami di masjid. [HR. Abu Daud dan Al-Hakim].

 

Mazhab Syafi’i: Shalat ‘Eid lebih afdhal dilaksanakan di masjid, dengan alasan masjid lebih suci dan lebih bersih dari tempat-tempat yang lain. Tetapi apabila masjid tidak bisa menampung seluruh jamaah shalat, maka shalat ‘Eid bisa dilakukan di tanah lapang sebagaimana hadits Al-Bukhari dan Muslim.

 

8. Kaifiat Shalat Idul Fitri

 

Ulama sepakat Shalat ‘Eid dilaksanakan dua rakaat sebagaimana shalat sunnah pada umumnya. Hal ini berdasarkan perkataan Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu,

 

صلاة الفطر ركعتان وصلاة الأضحى ركعتان تمام غيرُ قصر على لسان نبيكم وقد خاب من افترى . رواه النسائي وابن خزيمة

 

“Shalat Idul Fitri dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat, shalat yang sempurna tidak diqashar sebagaimana ucapan Nabi kalian. Celakalah yang membuat hal baru yang tidak diajarkan dalam agama.” [HR. An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah].

 

Imam an-Nawawi rahimahullahu juga menegaskan,

 

أَمَّا الْأَحْكَامُ فَصَلَاةُ الْعِيدِ رَكْعَتَانِ بِالْإِجْمَاعِ وَصِفَتُهَا المجزئة كصفة سائر الصلوات وسننها وهيآتها

 

“Adapun hukum-hukumnya, maka shalat ‘Eid dua rakaat berdasarkan kesepakatan para ulama. Tata cara yang mencukupi adalah seperti tata cara shalat-shalat yang lain, sunnah-sunnahnya dan gerakan-gerakannya.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/17)

 

  • Takbir Shalat Idul Fitri

 

Madzhab Hanafi: 3x Takbir rakaat pertama dan kedua selain takbiratul Ihram. Total 6x takbir selain Takbiratul Ihram.

Madzhab Maliki dan Hanbali: 7x Takbir Rakaat pertama + 5x Takbir rakaat kedua. Total 12x takbir termasuk Takbiratul Ihram.

Madzhab Syafi’i: 7x Takbir Rakaat pertama + 5x Takbir rakaat kedua. Total 12x takbir selain Takbiratul Ihram.

 

 

  • Surah yang sunnah dibaca saat Shalat ‘Eid

 

Jumhur Ulama: Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiah

Madzhab Maliki: Surah Al-A’la dan Asy-Syams

 

  • Shalat ‘Eid tanpa Adzan & Iqamah

 

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu ia berkata :

 صَلَيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْر مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ اَذَانٍ وَلاَ اِقَامَةٍ

 

“Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari sekali dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah.” [HR. Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi].

 

  • Khutbah Shalat ‘Eid

 

Ulama empat Madzhab sepakat mengatakan bahwa sunnah hukumnya melaksanakan dua khutbah setelah shalat ‘Eid. [HR. Ibnu Majah].

 

Riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke mushalla pada idul fitri dan idul adha, lalu berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk sejenak, kemudian berdiri lagi.”

 

Namun sebagian ulama kontemporer berpendapat sunnah hanya satu kali khutbah dalam shalat Id. Pendapat ini bersandar pada zahir hadits tentang khutbah Nabi yang hanya satu kali pada hadits Al-Bukhari dan Muslim. Ibnu Abbas berkata,

 

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

 

“Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah.” [HR. Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad]. Menurut pendapat ini, hadits di atas menunjukkan “al-Khutbah” bukan Khutbatain atau al-Khutbatain, yang secara tekstual bermakna satu kali khutbah.

 

Wallahu a’lam

 

Ust. Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password