Tak Terbang oleh Pujian, Tak Terguncang oleh Celaan

Sesungguhnya di antara persoalan penting dalam tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) adalah bagaimana sikap seorang hamba terhadap pujian (المدح) dan celaan (الذم). Sebab, tabiat manusia cenderung menyukai pujian dan membenci celaan. Dari sinilah muncul penyakit riya’, ujub, cinta popularitas, serta ketergantungan hati kepada makhluk, yang pada akhirnya dapat merusak keikhlasan amal.
Padahal, Allah ﷻ telah mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah pandangan manusia, melainkan ketakwaan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Demikian pula, Allah ﷻ menegaskan bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan-Nya:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa pujian dan celaan manusia bukanlah tolok ukur hakiki, karena semuanya berada dalam ilmu dan penilaian Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan yang sangat dalam terkait sikap terhadap pujian. Ketika seseorang dipuji di hadapannya, beliau mengingatkan bahaya pujian yang berlebihan:
وَيْلَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
“Celaka engkau, engkau telah memenggal leher saudaramu (dengan pujian itu)!”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ mengajarkan sikap tawadhu’ ketika dipuji:
اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ
“Ya Allah, jangan Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.” (HR. Al-Baihaqi dll)
Dari sini tampak bahwa seorang mukmin tidak seharusnya bergantung kepada penilaian manusia. Ia tidak terbang karena pujian dan tidak hancur karena celaan, tetapi senantiasa menimbang dirinya dengan timbangan syariat dan pengawasan Allah ﷻ.
Para ulama menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan yang berbeda dalam menyikapi pujian dan celaan. Ada yang tenggelam dalam pengaruhnya, ada yang mulai menahan diri, dan ada pula yang telah mencapai derajat keseimbangan hati. Memahami perbedaan keadaan ini sangat penting sebagai sarana muhasabah, agar seorang hamba dapat mengenali posisi dirinya dan berusaha naik menuju derajat keikhlasan yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, pembahasan tentang perbedaan keadaan manusia dalam menghadapi pujian dan celaan bukan sekadar kajian teoritis, melainkan bagian dari perjalanan spiritual menuju ikhlas, ridha, dan kedekatan kepada Allah ﷻ.
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam karya agungnya Ihya Ulumiddin menjelaskan kategori manusia saat dipuji dan dicela,
بَيَانُ اخْتِلَافِ أَحْوَالِ النَّاسِ فِي الْمَدْحِ وَالذَّمِّ
اِعْلَمْ أَنَّ لِلنَّاسِ أَرْبَعَةَ أَحْوَالٍ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الذَّامِّ وَالْمَادِحِ
Penjelasan tentang perbedaan keadaan manusia dalam menghadapi pujian dan celaan.
Ketahuilah bahwa manusia memiliki empat keadaan terkait dengan orang yang mencela dan yang memuji:
الْحَالَةُ الْأُولَى: أَنْ يَفْرَحَ بِالْمَدْحِ وَيَشْكُرَ الْمَادِحَ، وَيَغْضَبَ مِنَ الذَّمِّ وَيَحْقِدَ عَلَى الذَّامِّ، وَيُكَافِئَهُ أَوْ يُحِبَّ مُكَافَأَتَهُ، وَهٰذَا حَالُ أَكْثَرِ الْخَلْقِ، وَهُوَ غَايَةُ دَرَجَاتِ الْمَعْصِيَةِ فِي هٰذَا الْبَابِ.
Keadaan pertama:
Seseorang merasa senang dengan pujian dan berterima kasih kepada yang memuji, serta marah terhadap celaan dan membenci orang yang mencela, bahkan membalasnya atau ingin membalasnya. Ini adalah keadaan kebanyakan manusia, dan merupakan puncak tingkat kemaksiatan dalam perkara ini.
الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَمْتَعِضَ فِي الْبَاطِنِ عَلَى الذَّامِّ، وَلٰكِنْ يُمْسِكَ لِسَانَهُ وَجَوَارِحَهُ عَنْ مُكَافَأَتِهِ، وَيَفْرَحَ بَاطِنُهُ وَيَرْتَاحَ لِلْمَادِحِ، وَلٰكِنْ يَحْفَظَ ظَاهِرَهُ عَنْ إِظْهَارِ السُّرُورِ، وَهٰذَا مِنَ النُّقْصَانِ إِلَّا أَنَّهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا قَبْلَهُ كَمَالٌ.
Keadaan kedua:
Seseorang merasa tidak senang dalam batinnya terhadap orang yang mencela, tetapi ia menahan lisannya dan anggota tubuhnya dari membalas. Ia merasa senang dalam batinnya terhadap orang yang memuji dan merasa nyaman dengannya, namun menjaga lahirnya dari menampakkan kegembiraan. Ini masih termasuk kekurangan, tetapi dibandingkan sebelumnya merupakan suatu kesempurnaan.
الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ: وَهِيَ أَوَّلُ دَرَجَاتِ الْكَمَالِ أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَهُ ذَامُّهُ وَمَادِحُهُ، فَلَا تَغُمُّهُ الْمَذَمَّةُ وَلَا تَسُرُّهُ الْمَدْحَةُ، وَهٰذَا قَدْ يَظُنُّهُ بَعْضُ الْعُبَّادِ بِنَفْسِهِ وَيَكُونُ مَغْرُورًا إِنْ لَمْ يَمْتَحِنْ نَفْسَهُ بِعَلَامَاتِهِ.
Keadaan ketiga:
Ini adalah awal tingkat kesempurnaan, yaitu ketika celaan dan pujian sama saja baginya; celaan tidak membuatnya sedih dan pujian tidak membuatnya senang. Namun keadaan ini kadang disangka telah dimiliki oleh sebagian ahli ibadah, padahal bisa jadi ia tertipu jika tidak menguji dirinya dengan tanda-tandanya.
Dari uraian tentang perbedaan keadaan manusia dalam menghadapi pujian dan celaan, dapat dipahami bahwa perkara ini bukan sekadar persoalan etika lahiriah, melainkan cerminan kedalaman hati dan kualitas keikhlasan seorang hamba. Semakin ia terbebas dari pengaruh penilaian manusia, semakin dekat ia kepada kemurnian tauhid dan keikhlasan kepada Allah ﷻ.
Seorang mukmin sejati tidak menjadikan pujian sebagai tujuan, dan tidak pula menjadikan celaan sebagai penghalang. Ia berjalan di atas prinsip mencari ridha Allah semata, seraya terus bermuhasabah dan memperbaiki diri. Karena itu, penting bagi setiap hamba untuk mengenali posisinya, lalu berusaha naik menuju derajat yang lebih tinggi, hingga hatinya benar-benar stabil—tidak terombang-ambing oleh pujian dan tidak goyah oleh celaan.
Semoga Allah ﷻ membersihkan hati kita dari penyakit riya’, ujub, dan cinta pujian, serta menghiasi kita dengan keikhlasan, ketawadhu’an, dan keteguhan dalam kebenaran. Amin.
Wallahu a’lam
Ust. Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A

0 Comments